Promotional GaraMedia>>> Rumah dikontrakkan di perumahan mutiara residence no c5. Bantul, info lebih lanjut : 081802732747 (Mbak Lucky)** STIE NUSA MEGARKENCANA YOGYAKARTA membuka pendaftaran mahasiswa baru secara online : http//bit.ly/pmbstienus Program studi pilihan Akuntansi dan Manajemen sudah terakreditasi "B" Prodi maupun Institusi, alamat kampus JL. AM.Sangaji no 49-51 Yogyakarta ** Bingung olah data buat skripsi? Langsung aja cuss ke Bengkel olah data,info lebih lanjut hubungi : 08174100387 ** Mau iklanmu dimuat di GaraMedia? Email aja ke garamediaindonesia@gmail.com ** Harga promosi : Iklan Baris :Rp 20.000/bulan, Iklan Banner: Rp 50.000/Bulan**

Cara menangani sebuah konflik karyawan


Seperti kita ketahui didalam menangani sebuah konflik haruslah hati-hati karena rentan menjadi besar. Siapa yang harus menangani jika terjadi konflik karyawan di dalam sebuah perusahaan? jawabannya adalah semua karyawan yang berada di dalam perusahaan  tersebut. Tentu saja, masing-masing karyawan mempunyai peranan sendiri-sendiri berdasarkan tingkatan atau level kewenangannya.


Level 1 : Sesama staff ( rekan kerja).

Pada level pertama ini, fungsi rekan kerja hanya sebagai media penengah awal. Rekan kerja hanya berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berkonflik. Apa yang bisa dilakukan rekan kerja untuk memadamkan konflik?

1. Ajak bicara kedua belah pihak yang berkonflik, mungkin dengan ngopi-ngopi bareng agar suasana konflik yang panas berubah menjadi sejuk atau istilah lainnya cooling down. Jadilah pendengar yang baik, biarkan temanmu yang sedang berkonflik itu menceritakan kejadiannya walau terjadi dua versi ( masing-masing pihak yang berkonflik mempunyai cerita yang berbeda). Setelah semua pihak menceritakan kejadian versi masing-masing dan kemudian, berilah nasehat yang baik  ( tetapi jangan menjustice ) agar mereka berdamai dan bersalaman.

2. Bila acara ngopi bareng gagal, dan mereka masih berkonflik maka selanjutnya adalah ciptakan kondisi yang netral buat dirimu. Jadi kamu tidak merasa berada di salah satu pihak yang sedang berkonflik.

3. Setelah kamu menciptakan  suasana netral, konsultasikan konflik yang terjadi kepada supervisor atau dept headmu agar supervisor atau deptheadmu bisa segera mencari solusi untuk memadamkan konflik tersebut agar tidak semakin besar. Ingat, sebuah konflik akan menjadi semakin besar apabila disembunyikan, dan Manager di departemenmu adalah orang tuamu pada saat bekerja. Cara ketiga ini adalah cara terakhir yang bisa kamu lakukan untuk memadamkan konflik yang terjadi pada rekan kerjamu.


Level 2 : Level Supervisor dan manager departemen

Pada level kedua ini ditempuh apabila di level staff terjadi kebuntuan untuk memadamkan konflik. Yap... supervisor dan manager departmen akan bertindak apabila mendapat sebuah laporan dari salah satu staffnya. Cara yang dilakukan pada level supervisor dan manager departemen adalah sebagai mediator lebih lanjut. 

Pihak yang berkonflik akan diberi nasehat untuk segera berdamai (apabila pihak yang sedang berkonflik sesama staff departemen).

Apabila pihak yang sedang berkonflik beda departemen, maka supervisor dan manager masing-masing departemen akan duduk bersama dan *berdiskusi*. 

Diharapkan pada level ini , supervisor dan manager tidak abai terhadap permasalahan yang terjadi di level staff. Seorang supervisor dan manager yang abai dan kurang peduli terhadap staffnya ( hanya sebatas senior dan junior) pastilah tidak dapat membentuk hubungan yang solid dan hangat dengan staffnya. Akibatnya staff akan takut apabila diminta menemui supervisor atau manager departemennya. Antara segan dengan takut itu berbeda lhoo...

*Apabila ingin diadakan diskusi atau duduk bersama antar supervisor dan manager dari masing-masing pihak yang berkonflik, diharapkan tidak dilakukan pada saat Morning Briefing bersama General Manager/ Pimpinan tertinggi dalam sebuah perusahaan, melainkan diadakan setelah morning briefing bersama GM/ pimpinan tertinggi selesai.*

Apabila setelah diadakan diskusi dan duduk bersama antar supervisor dan manager masing-masing gagal, selanjutnya ranah penyelesaian konflik tersebut dinaikkan ke HRD.


Level 3 : HRD atau bagian Personalia.

Pada level ini banyak sekali cara yang bisa dilakukan oleh HRD untuk segera memadamkan sebuah konflik ,yaitu :

1. Panggil kedua belah pihak yang sedang berkonflik, lalu ajak untuk duduk bersama agar HRD mengetahui permasalahannya secara langsung. Kemudian diskusikan masalah tersebut agar ketemu cara penyelesaiannya.

2. Jika diskusi gagal, selanjutnya buatlah sebuah perundingan agar masing-masing pihak mau untuk berdamai dan salaman. Tentu saja didalam mengambil keputusan pada tahap perundingan atau negosisasi haruslah win-win solution,

3. Cari jalan tengah apabila di dalam perundingan dan negosiasi masih tetap mengalami deadlock atau buntu.

4. Apabila masing-masing pihak tetap ngotot dan mengabaikan jalan tengah atau solusi yang ditawarkan oleh HRD, maka dengan sangat terpaksa HRD akan melakukan eliminasi.

Tentu saja didalam melakukan Eliminasi ini , seorang HR manager harus hati-hati dan penuh dengan pertimbangan yang matang.

Harapan dari artikel ini adalah agar setiap komponen SDM di Perusahaan cepat dan tanggap untuk menyelesaikan sebuah konflik yang terjadi. Penyelesaian konflik secara berlarut-larut akan terjadi dua hal ( positifnya : Konflik bisa reda dengan sendirinya, atau negatifnya : Konflik semakin panas dan mengganggu aktivitas kerja). Tentu saja kita semua sebagai karyawan yang jempolan mengharapkan suasana kerja yang nyaman, hangat, friendly, dan fun di Perusahaan. Akan tetapi suasana kerja seperti tersebut tidak dapat terwujud apabila setiap personel ( dari level staff hingga level managerial) tidak memiliki kepedulian terhadap sesama dan cenderung abai terhadap permasalahan orang lain atau dalam bahasa jawanya “ Masalahmu udu masalahku”. 

Apabila masing-masing personel ( dari level staff hingga level managerial) memiliki rasa kepedulian terhadap sesama yang tinggi, maka tercipta team work yang solid. Dampak dari team work yang solid adalah Langkah untuk mencapai visi dan misi management pun akan semakin ringan, selain itu dampak lainnya adalah turn over ( perputaran) karyawan rendah. Akhir dari kalimat ini adalah “ Jagalah susasana kerja di Perusahaanmu tetap nyaman, friendly (penuh keakraban), dan fun ( penuh kebahagiaan) , Nyambut gawe digawe seneng ( bekerja dibuat menyenangkan). ”

Oiya, buat mediator konflik ataupun pihak yang dijadikan konselor diharapkan untuk tidak "ember bocor" dan menggede-gedekan konflik yang sedang terjadi, minimalkan jumlah orang yang tahu akan terjadinya konflik tersebut agar tidak ada oknum yang membuat "panas" kembali konflik tersebut ataupun pihak-pihak yang suka menggosip dan gemar menambahi bumbu sehingga terjadi perbedaan versi terjadinya konflik yang sesungguhnya. Karena harapannya tentu saja proses Cooling down antar pihak yang berkonflik berjalan cepat .


Based on Interview with Ikin Solikin ( CEO  PT.AJAR Media Digital/ Ajar.id)

By Galih Satria

Editing by: Garamin ( Gara Admin)

 

0 comments:

Post a Comment